Allah ﷻ mempergilirkan kondisi manusia sesuai dengan kehendak-Nya. Ada masa kita berada di puncak keberhasilan, dan ada waktu kita diuji dengan keterbatasan. Semua itu bukan kebetulan, melainkan sunnatullah agar manusia belajar mengenal dirinya dan Tuhannya.
Allah berfirman:
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia…”
(QS. Ali ‘Imran: 140)
Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada keadaan yang bersifat abadi. Maka, ketika seseorang berada di atas, Islam mengajarkan agar tidak sombong. Sebab nikmat yang ada hanyalah titipan. Allah mengingatkan:
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”
(QS. An-Nisa: 36)
Sebaliknya, saat berada di bawah, seorang mukmin tidak boleh larut dalam kesedihan dan putus asa. Karena setiap kesulitan pasti mengandung jalan keluar. Allah berjanji:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 6)
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan sikap seimbang dalam menghadapi segala keadaan:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.”
(HR. Muslim)
Karena itu, syukur dan sabar adalah dua sikap yang harus terus dipegang. Syukur menjaga hati tetap rendah ketika lapang, dan sabar menguatkan jiwa ketika sempit. Dengan keduanya, hidup tidak hanya dijalani, tetapi dimaknai sebagai jalan mendekat kepada Allah ﷻ.
Komentar