Ketika Kematian Menjadi Guru Terbaik

Allah kadang menegur bukan dengan kata, tapi dengan kehilangan.Semoga kita berubah sebelum disadarkan dengan cara yang paling menyakitkan.

Ada sebuah kisah yang sangat menggetarkan hati. Kisah tentang seorang anak yang awalnya biasa saja dalam beribadah. Salatnya kadang ditinggalkan, puasanya belum sepenuhnya dijaga. Namun hari ini, ia berubah luar biasa. Salat lima waktu ditegakkan di masjid, salat rawatib dijaga, puasa dijalani dengan penuh kesungguhan.

Apa yang mengubahnya?

Bukan ceramah panjang.

Bukan ancaman keras.

Melainkan kematian seorang sahabat.

Teman satu sekolahnya meninggal dunia. Di detik-detik terakhir hidupnya, mereka saling memandang. Tatapan mata yang dalam, tajam, dan penuh makna. Seakan tanpa kata, sahabatnya menyampaikan pesan:

“Hidup ini singkat. Jangan lalai. Bersiaplah sebelum dipanggil.”

Sejak hari itu, hatinya berubah. Ia sadar, kematian tidak menunggu tua, tidak menunggu kaya, tidak menunggu saleh. Kematian bisa datang kapan saja.

Allah SWT berfirman:

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”

(QS. Ali ‘Imran: 185)

Sering kali kita tahu ayat ini, tetapi lupa merenungkannya. Kita sibuk mengejar dunia, menunda ibadah, merasa masih punya waktu. Padahal sahabatnya yang wafat itu juga punya rencana, punya mimpi, tapi Allah lebih dulu memanggilnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.”

(HR. Tirmidzi)

Mengingat kematian bukan untuk membuat kita takut berlebihan, tapi agar hidup kita lebih tertata, lebih taat, dan lebih bermakna.

Ji ka seorang anak saja bisa berubah karena satu peristiwa kematian, maka bagaimana dengan kita yang setiap hari melihat berita kematian, mendengar takziah, bahkan mengantar jenazah ke kubur?

Mari jadikan kematian sebagai nasihat tanpa suara.

Mari perbaiki salat sebelum kita disalatkan.

Mari perbanyak amal sebelum amal kita ditutup.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang istiqamah, dan menjadikan anak-anak kita generasi yang shalih dan shalihah, berbakti kepada orang tua, agama, masyarakat, dan negara.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Edy Siswanto 

Komentar