Saat Hidup Kehilangan Titiknya


 

Hidup Tanpa Allah: Seperti Pensil Tumpul Tanpa Arah

“Hidup tanpa Allah ibarat sebuah pensil tumpul, ia tidak memiliki titik.”
Ungkapan ini menggambarkan satu kenyataan penting: hidup tanpa keimanan kehilangan arah, makna, dan tujuan akhir.

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Tanpa Allah, manusia mungkin tetap bergerak, bekerja, dan berjuang, tetapi seperti pensil tumpul—tak mampu menorehkan makna. Aktivitas menjadi rutinitas kosong, ambisi menjadi beban, dan keberhasilan sering berakhir dengan kehampaan.

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa kehidupan sejati adalah kehidupan yang terhubung dengan Allah:

“Perumpamaan orang yang mengingat Rabb-nya dan yang tidak mengingat Rabb-nya adalah seperti orang hidup dan orang mati.”
(HR. Bukhari)

Hati yang tidak mengenal Allah akan mudah gelisah. Sebaliknya, ketenangan hanya lahir dari kedekatan dengan-Nya:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)

Allah adalah “titik” dalam hidup manusia—awal niat, arah langkah, dan tujuan akhir. Ketika Allah hadir dalam iman, ibadah, dan akhlak, hidup menjadi tajam, jelas, dan bermakna. Bukan sekadar berjalan, tetapi menuju; bukan sekadar hidup, tetapi benar-benar bernilai.

Penutup:
Menghadirkan Allah dalam hidup bukan membuat kita kehilangan dunia, justru menjadikan dunia dan akhirat berada pada tempatnya. Karena hidup yang terhubung dengan Allah adalah hidup yang memiliki arah, cahaya, dan tujuan abadi.


Komentar