“Jadilah mulia tanpa merendahkan orang lain,
jadilah besar tanpa mengecilkan orang lain,
jadilah bahagia tanpa menyakiti orang lain.”
Dalam Islam, kemuliaan tidak diukur dari seberapa tinggi kita berdiri di atas orang lain, tetapi seberapa dalam ketakwaan tertanam di hati. Allah ﷻ berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan sejati bukan pada status, jabatan, atau keunggulan duniawi, melainkan pada akhlak dan ketakwaan. Karena itu, merendahkan orang lain justru menghilangkan nilai kemuliaan itu sendiri.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:
“Cukuplah seseorang dianggap sombong jika ia meremehkan saudaranya.”
(HR. Muslim)
Menjadi besar dalam pandangan Allah bukan berarti mengecilkan orang lain, tetapi mampu memuliakan sesama. Orang yang benar-benar besar adalah mereka yang rendah hati, lapang dada, dan mampu menjaga lisan serta sikapnya.
Kebahagiaan pun tidak dibenarkan jika diraih dengan menyakiti orang lain. Islam mengajarkan bahwa seorang muslim adalah sumber keselamatan bagi sesamanya. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, kebahagiaan yang hakiki adalah ketika hati tenang karena tidak menyakiti, lisan terjaga dari melukai, dan perbuatan menjadi jalan kebaikan bagi orang lain.
Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang dimuliakan karena akhlaknya, dibesarkan karena kerendahan hatinya, dan dibahagiakan karena mampu membahagiakan sesama. 🤍


Komentar