Kembali ke Buku: Menyelamatkan Daya Pikir Generasi

 



Oleh: Edy Siswanto

Beberapa waktu terakhir, publik dikejutkan oleh kabar dari Finlandia—negara yang kerap dijadikan rujukan pendidikan dunia—yang justru mulai mengurangi pembelajaran berbasis layar dan kembali menguatkan penggunaan buku dan pena. Bagi sebagian orang, ini terdengar seperti langkah mundur. Namun sesungguhnya, inilah langkah korektif yang sangat maju.

Finlandia tidak anti-teknologi. Mereka hanya jujur membaca realitas: terlalu banyak layar telah menurunkan daya fokus, melemahkan konsentrasi, dan membuat pembelajaran menjadi dangkal. Anak-anak memang cepat mengakses informasi, tetapi miskin kedalaman berpikir. Mereka tahu banyak hal, namun sulit menjelaskan secara runtut dan kritis.

Di sinilah kita perlu bercermin.

Buku Bukan Sekadar Media, tapi Cara Berpikir

Buku bukan hanya kumpulan kertas. Buku adalah alat pembentuk cara berpikir. Membaca buku melatih kesabaran, fokus, dan nalar runtut. Tidak ada notifikasi, tidak ada iklan, tidak ada godaan berpindah halaman secara instan. Otak dipaksa bekerja lebih dalam, bukan sekadar menerima.

Lebih dari itu, menulis dengan pena adalah latihan intelektual yang serius. Menulis tangan mengharuskan seseorang berpikir, memilih kata, dan merangkai makna. Berbeda dengan mengetik yang sering kali hanya menyalin pikiran tanpa sempat mencerna.

Tak heran jika generasi yang tumbuh bersama buku—meski tanpa gawai—melahirkan banyak pemikir, ulama, sastrawan, dan ilmuwan besar. Mereka mungkin tidak cepat, tetapi dalam.

Krisis Imajinasi dan Kedangkalan Berpikir

Hari ini, kita menghadapi generasi yang akrab dengan layar, tetapi asing dengan imajinasi. Anak-anak mudah menonton, tetapi sulit membayangkan. Mudah menggeser layar, tetapi enggan membuka halaman buku. Padahal, dari buku-bukulah lahir “lukisan pikiran”—kemampuan membayangkan, merenung, dan mencipta.

Ketika gambar selalu disediakan oleh layar, imajinasi menjadi pasif. Ketika jawaban selalu instan, berpikir menjadi malas. Inilah krisis yang jarang disadari: krisis kedalaman nalar.

Subuh, Buku, dan Pena

Ada satu kebiasaan lama yang kini makin langka: membaca dan menulis di waktu subuh. Padahal, subuh adalah waktu paling jernih bagi akal dan jiwa. Dalam tradisi keilmuan Islam, subuh adalah waktu lahirnya karya-karya besar. Membaca di subuh menajamkan akal, menulis di pagi hari menguatkan daya pikir.

Jika generasi hari ini jauh dari buku, barangkali bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena tidak dibiasakan.

Belajar dari Finlandia

Langkah Finlandia seharusnya menjadi peringatan, bukan sensasi. Mereka kembali ke buku bukan karena tertinggal, tetapi karena ingin menyelamatkan kualitas berpikir generasi masa depan. Teknologi tetap penting, tetapi harus menjadi alat bantu, bukan penguasa ruang belajar.

Indonesia dengan bonus demografinya justru membutuhkan generasi yang kuat membaca, tahan berpikir, dan terampil menulis. Tanpa itu, kita hanya akan melahirkan generasi cepat bereaksi, tetapi lemah refleksi.

Penutup

Kembali ke buku bukan berarti menolak zaman. Justru sebaliknya, ini adalah cara agar kita tidak hanyut oleh zaman. Buku mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak, berpikir, dan memahami. Sesuatu yang hari ini semakin mahal harganya.

Jika Finlandia saja merasa perlu kembali ke buku, maka pertanyaannya bagi kita sederhana:

Apakah kita akan terus melaju dengan cepat, atau berhenti sejenak untuk berpikir dengan benar?

Komentar