Pembelajaran yang baik tidak bisa langsung dimulai begitu saja. Anak-anak bukan robot yang tinggal menekan tombol lalu berjalan sesuai perintah. Mereka perlu pemanasan agar siap secara mental dan emosional untuk belajar.
Satu pertemuan awal sebaiknya digunakan untuk memberi ruang cerita. Setelah lebih dari seminggu belajar di rumah, anak-anak perlu diberi kesempatan menceritakan pengalaman mereka. Cerita sederhana tentang rumah, keluarga, atau kegiatan sehari-hari justru menjadi pintu masuk terbaik ke dunia pembelajaran.
Pengalaman belajar di rumah dapat dituangkan dalam bentuk tulisan narasi. Jika dikumpulkan, tulisan-tulisan itu bisa menjadi antologi cerita satu kelas. Dari sini, literasi tumbuh secara alami, tidak dipaksa, dan terasa menyenangkan.
Jika pembiasaan ini dilakukan secara konsisten, setiap masa libur bisa menghasilkan satu buku satu kelas. Anak-anak merasa dihargai, memiliki karya, dan bangga dengan hasil tulisannya.
Lama-kelamaan, kebiasaan ini akan membentuk budaya. Setiap libur, anak-anak akan terdorong mendokumentasikan pengalaman mereka dalam tulisan, foto, atau video. Inilah pembelajaran di rumah yang efektif: memberi ruang berekspresi, menumbuhkan literasi, dan memanusiakan anak.

Komentar