Ibu, Meski Tak Sempurna Tetap Mulia

 


Mungkin ibumu bukan orang yang sempurna.
Mungkin sikap dan ucapannya pernah melukai.
Namun ada satu kebaikan yang tak pernah bisa dibantah dan tak akan pernah terbalas:
ia pernah mengandung, melahirkan, dan menyusui—meski hanya setetes.

Allah ﷻ mengingatkan betapa berat perjuangan seorang ibu:

“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun…”
(QS. Luqman: 14)

Ayat ini tidak berbicara tentang ibu yang ideal, lembut, atau sempurna.
Ayat ini berbicara tentang ibu sebagai ibu, dengan segala keletihan dan pengorbanannya.

Rasulullah ﷺ pun menegaskan kemuliaan ibu dalam sabda yang sangat terkenal. Ketika seorang sahabat bertanya, “Siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Nabi ﷺ menjawab:

“Ibumu.”
Sahabat itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?”
Nabi ﷺ menjawab: “Ibumu.”
“Kemudian siapa?”
Nabi ﷺ menjawab: “Ibumu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Pengulangan ini bukan tanpa makna. Ia adalah penegasan bahwa bakti kepada ibu tidak bersyarat pada baik-buruknya sikap ibu, tetapi pada besarnya jasa yang tak tergantikan.

Bahkan ketika orang tua bersikap keras atau keliru, Allah tetap memerintahkan adab dan kebaikan:

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui, maka janganlah kamu taati keduanya, tetapi pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik.”
(QS. Luqman: 15)

Artinya, dalam kondisi paling berat sekalipun, Allah tidak mencabut perintah berbuat baik kepada ibu.

Maka, apa pun yang terjadi—
sejahat apa pun penilaian kita terhadapnya—
bakti kepada ibu tetaplah kewajiban, bukan pilihan.

Bukan karena ibu selalu benar,
tetapi karena Allah yang memerintahkannya.
Dan ketaatan kepada Allah selalu melahirkan keberkahan, meski terasa berat di hati.

Komentar