Dalam kehidupan ini, sering kali manusia merasa cemas terhadap masa depan, rezeki, dan hasil dari setiap usaha yang dilakukan. Padahal, seorang mukmin meyakini bahwa yang mengatur segala urusan hanyalah Allah, Rabb yang Maha Mengetahui, Maha Teliti, dan tidak pernah lalai sedikit pun. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah mengatur segala urusan.”
(QS. Ar-Ra‘d: 2)
Manusia diperintahkan untuk berikhtiar, berusaha secara maksimal sesuai kemampuan dan jalan yang halal. Namun, hasil dari usaha tersebut sepenuhnya berada dalam ketetapan Allah. Karena itu, setelah ikhtiar, seorang hamba diajarkan untuk bertawakal, menyerahkan hasilnya dengan hati yang tenang dan lapang. Allah menegaskan:
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”
(QS. At-Talaq: 3)
Rasulullah ﷺ juga menanamkan keseimbangan antara usaha dan tawakal. Beliau bersabda:
“Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.”
(HR. Tirmidzi)
Hadits ini mengajarkan bahwa tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan percaya penuh kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik. Ketika hati bersandar kepada Allah, kegelisahan akan berganti dengan ketenangan, karena seorang hamba yakin bahwa rencana Allah selalu lebih sempurna daripada rencana manusia.
Maka, tugas kita hanyalah terus berusaha, berdoa, dan menyerahkan segala hasil kepada Allah. Sebab, Allah tidak pernah salah dalam mengatur, dan Dia selalu memberi yang terbaik bagi hamba-Nya yang beriman.


Komentar