Ketika Pendidikan Gagal, Negara Dipertaruhkan


Pendidikan yang Keliru, Negara yang Tersesat

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kondisi negara hari ini merupakan cerminan dari pendidikan yang gagal membentuk karakter. Persoalan bangsa yang kian kompleks mulai dari korupsi, krisis kepemimpinan, hingga kerusakan lingkungan tidak lahir secara tiba-tiba. Semua itu berakar dari sistem pendidikan yang terlalu lama mengabaikan nilai kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab.

Pendidikan kita sibuk mengejar angka, nilai, dan ijazah, tetapi lalai menanamkan adab. Sekolah menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, namun rapuh secara moral. Ketika kecerdasan tidak dibarengi integritas, maka ilmu justru menjadi alat pembenaran untuk berbuat curang, menipu sistem, dan mengakali hukum. Di sinilah awal dari krisis karakter yang kini kita rasakan bersama.

Kegagalan pendidikan ini berdampak langsung pada kehidupan politik. Dalam masyarakat dengan sumber daya manusia yang lemah integritasnya, politik mudah berubah menjadi arena transaksi. Siapa yang paling kaya, dialah yang berpeluang menang. Uang berbicara lebih lantang daripada gagasan, dan kekuasaan diraih bukan melalui keteladanan, melainkan melalui modal. Demokrasi kehilangan ruhnya dan berubah menjadi kompetisi kapital yang kering nilai.

Ketika kekuasaan dikuasai oleh mereka yang miskin nurani, kepentingan publik pun dikorbankan. Kebijakan dibuat bukan untuk keberlanjutan bangsa, melainkan untuk melanggengkan kekuasaan dan memperkaya diri. Di titik inilah kita menyaksikan bagaimana sumber daya alam dieksploitasi secara serampangan. Hutan mangrove dirusak, lingkungan dikorbankan, dan keseimbangan ekosistem diabaikan atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

Bencana yang terjadi di berbagai daerah sejatinya bukan semata-mata musibah alam. Ia adalah akibat dari keserakahan manusia yang dilegalkan oleh sistem yang rusak. Pendidikan yang gagal menanamkan tanggung jawab ekologis melahirkan generasi yang memandang alam hanya sebagai objek ekonomi, bukan sebagai amanah yang harus dijaga. Ketika nilai moral tidak ditanamkan sejak dini, maka kerusakan lingkungan hanyalah soal waktu.

Ironisnya, semua ini berlangsung di tengah jargon kemajuan dan modernisasi. Kita membangun jalan, gedung, dan infrastruktur dengan kecepatan tinggi, tetapi lupa membangun manusia. Pendidikan direduksi menjadi proses administratif dan formalitas belaka. Guru dibebani target, siswa diburu capaian, sementara pembentukan karakter dikesampingkan karena dianggap tidak terukur.

Padahal para pendiri bangsa telah menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia. Ki Hajar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai upaya menumbuhkan budi pekerti, pikiran, dan tubuh secara seimbang. Namun hari ini, trilogi pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat—belum berjalan seiring. Keluarga kehilangan peran keteladanan, sekolah kehilangan wibawa moral, dan masyarakat justru mempertontonkan contoh buruk yang terus direplikasi.

Jika kondisi ini dibiarkan, jangan heran jika negara terus dikuasai oleh orang-orang yang pintar tetapi tidak jujur, kaya tetapi tidak beradab. Pendidikan yang gagal melahirkan manusia berkarakter pada akhirnya mempertaruhkan masa depan bangsa. Tanpa pembenahan serius pada orientasi pendidikan, kita hanya akan melahirkan generasi yang cakap bersaing, tetapi abai pada nilai kemanusiaan.

Sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada hakikatnya. Kejujuran harus didahulukan sebelum kecerdasan, adab sebelum ambisi, dan tanggung jawab sebelum kekuasaan. Pendidikan bukan sekadar alat mobilitas sosial, melainkan fondasi peradaban. Jika pendidikan terus salah arah, maka negara akan terus tersesat dan kita semua menanggung akibatnya.

Drs. Edy Siswanto, M.Pd. adalah pemerhati pendidikan dan pegiat literasi Nasional. 

Komentar