Ketika Ingin Berbuat Baik Justru Dihalang-Halangi: Hikmah Kisah Nabi Musa dan Khidir

 

Tidak jarang seseorang berniat berbuat baik, namun justru dihalang-halangi, disalahpahami, bahkan dianggap keliru. Dalam Islam, fenomena ini bukan hal baru. Al-Qur’an merekam dengan sangat indah kisah Nabi Musa ‘alaihis salam dan seorang hamba saleh yang dikenal sebagai Nabi Khidir, yang sarat dengan pelajaran tentang makna kebaikan dan hikmah di balik sebuah tindakan.

Kisah Tembok yang Diperbaiki

Dalam Surah Al-Kahfi ayat 60–82, Allah menceritakan perjalanan Nabi Musa bersama Nabi Khidir. Di antara peristiwa pentingnya adalah ketika mereka sampai di sebuah negeri yang penduduknya terkenal pelit dan enggan menjamu tamu.

“Kemudian keduanya berjalan; hingga ketika mereka sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka meminta dijamu oleh penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka…”
(QS. Al-Kahfi: 77)

Di negeri yang penduduknya kikir itu, Nabi Khidir justru memperbaiki sebuah tembok yang hampir roboh, tanpa meminta upah sedikit pun. Melihat hal tersebut, Nabi Musa heran dan berkata bahwa mereka seharusnya bisa meminta imbalan atas pekerjaan itu.

Namun, setelah perpisahan mereka, Nabi Khidir menjelaskan hikmah di balik perbuatannya:

“Adapun tembok itu adalah milik dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya terdapat harta simpanan bagi mereka berdua. Ayah mereka adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai dewasa dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu…”
(QS. Al-Kahfi: 82)

Kebaikan yang Tidak Selalu Dipahami Seketika

Perbaikan tembok itu tampak seperti kebaikan yang “salah sasaran”:

  • Penduduknya pelit
  • Tidak ada ucapan terima kasih
  • Tidak ada upah

Namun justru di situlah letak nilai keikhlasan dan hikmah ilahi. Tembok itu diperbaiki bukan demi penduduknya, tetapi demi anak yatim yang suatu hari kelak akan membutuhkan harta tersebut untuk masa depan mereka.

Pelajaran Moral dan Spiritualitas

Kisah ini mengajarkan beberapa nilai penting:

  1. Berbuat baik tidak selalu mendapat apresiasi langsung
    Bahkan bisa disalahpahami oleh orang saleh sekalipun, seperti Nabi Musa.

  2. Allah mengetahui tujuan akhir dari setiap kebaikan
    Apa yang tampak tidak adil di mata manusia, bisa jadi sangat adil menurut Allah.

  3. Keikhlasan adalah inti amal saleh
    Kebaikan sejati tidak selalu menunggu balasan duniawi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya…”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Penutup: Tetap Berbuat Baik Meski Dihalang

Kisah Nabi Musa dan Khidir mengajarkan bahwa tidak semua kebaikan harus dipahami sekarang, dan tidak semua niat baik akan langsung didukung. Namun selama itu berada di jalan Allah dan diniatkan karena-Nya, maka kebaikan itu tidak akan sia-sia.

Ketika suatu saat tabir hikmah dibuka, barulah manusia menyadari:
ternyata di balik halangan itu, ada maslahat besar yang sedang Allah jaga.

.

Komentar