Bpk Joko Santoso yang menginisi gedung pusat literasi Magetan seharga 10 miliar
Jakarta Lebih dari Sekadar Bisa
Sebanyak 1.300 buku telah lahir dari tangan pelajar Jakarta, dari jenjang SD/MI hingga SMA/SMK/MAN. Ini bukan capaian biasa, melainkan prestasi literasi langka yang seharusnya menjadi kebanggaan masyarakat Jakarta
Dari 1.300 buku itu belum memiliki rumah. Semoga dengan panen buku ini pemerintah mengapresiasi memberikan tempat atau lumbung literasi Jakarta.
Bandingkan dengan Kabupaten Magetan. Dengan 450 buku ber-ISBN, pemerintah melalui Arpusnas membangun Pusat Literasi senilai 10 miliar rupiah. Jika 450 buku layak mendapat ruang, maka1.300 buku karya pelajar Jakarta lebih dari bisa.
Buku adalah arsip masa depan. Tanpa ruang penyimpanan dan pengelolaan yang layak, karya pelajar hanya akan menjadi tumpukan data yang perlahan dilupakan. Kota yang mengabaikan karya generasinya sedang menghapus sejarahnya sendiri.
Jika Jakarta ingin menjadi barometer literasi dunia, jawabannya sederhana:
semua masyarakat harus menikmatinya.
Dan untuk lebih fenomenal beri rumah bagi buku-buku pelajarnya.


Komentar