Isyarat Halus yang Menyakiti: Ketika Adab Tuan Rumah Terlupa”

 


Masjid bukan ruang terburu-buru.

Jika jamaah masih bermunajat, biarkan mereka nyaman. 

Adab lebih utama daripada efisiensi.

Dalam tradisi adab Islam, tuan rumah memiliki kewajiban menjaga perasaan tamu. Salah satu adab yang sering terabaikan adalah memberi isyarat ketidaksenangan secara tidak langsung, seperti melihat arloji berulang kali saat tamu sedang berbicara. Isyarat ini, meski tampak sepele, sering dimaknai sebagai tanda bahwa tuan rumah ingin tamu segera pamit. Padahal, adab yang mulia menuntut kita menjaga kenyamanan tamu hingga mereka sendiri memahami waktunya untuk pulang.

Hal serupa juga kerap terjadi di masjid. Ketika masih ada jamaah yang menunaikan salat rawatib, zikir, atau ibadah sunnah lainnya, namun AC atau kipas angin dimatikan, lampu diredupkan, atau pintu masjid ditutup sebagian. Tindakan ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, seolah-olah tamu Allah sedang “diusir” secara halus.

Masjid adalah rumah Allah, dan orang yang beribadah di dalamnya adalah tamu-Nya. Mematikan fasilitas masjid sebelum jamaah selesai beribadah bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan adab dan empati.

Islam mengajarkan untuk memuliakan tamu, baik tamu manusia maupun tamu Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Komentar