Social Icons

http://www.youtube.com/user/MrEdysiswanto?

Kamis, Januari 05, 2012

Buku Edy


PANTASKAH KITA DISEBUT GURU ?
Guru merupakan sosok seseorang yang penuh dengan segala ilmu. Kalau dulu segala permasalahan baik yang ada di sekolah maupun di masyarakat semuanya berujung pada guru yang menjadi ujung tombak pertanyaan dan pelaksanaan. Terbukti semua jabatan yang ada di desa maupun perkotaan masih menggunakan jasa guru, seperti Ketua RT, RW, ketua panitia PHBI, Ketua pilkades, pilkada dsb. Sekarang tugas itu berangsur-angsur mulai berkurang, sehingga beban di masyarakat mulai berkurang.
            Dengan berkurangnya beban itu berarti semakin longgar waktu guru untuk menambah ilmu demi anak kita. Sebetulnya beban guru disekolah sendiri sudah luar biasa beratnya bagi mereka yang mengetahui dan merasakan tugas mulia itu. Namun bagi guru yang hanya menstranfer ilmu saja bagaikan pekerjaan seorang kuli atau tukang.
Guru Sejati
            Bagi penulis guru sejati atau progfesional adalah siapa saja yang senang akan pembelajaran di antara anak didik. Dengan ciri sebagai berikut:
·         Senang berada di tengah siswa
·         Rindu dengan pembelajaran
·         Senang, nyaman dan kerasan  berada di kelas dan sekolah
·         Rindu akan siswa
·         Rindu dengan perkembangan teknologi
·         Rindu menambah ilmu
·         Senang berkreasi dalam seni
·         Rindu dengan kejujuran
·         Rindu akan prestasi
·         Rindu akan kesuksesan siswanya
·         Tangguh, visioner, ulet dan tahan banting
Mari satu persatu kita amati dan perbincangkan dari ciri-ciri guru sejati tersebut.
  • Senang Berada Ditengah Siswa
Guru yang senang berada di tengah siswa berarti mereka betul menguasai ilmu dan teknologi serta pribadi yang unggul dalam memilih strategi untuk memberikan pelayanan yang menyenangkan bagi siswa yang sedang mengerumuninya. Tanyakan pada dirimu jikalau tidak siap materi ajar, anda pasti ragu untuk masuk kelas, bahkan malas yang akhirnya terlambat datang dan lebih parah lagi beri tugas CTL (catat tinggal lungo)
  • Rindu dengan pembelajaran
Guru yang mempunyai segudang ilmu akademis, sosial, emosional, dan spiritual serta kemampuan dibidang teknologi yang mumpuni akan selalu dirindukan anak. Guru yang mempunya cakrawala luas pasti tidak akan kehabisan cerita maupun ide yang membangkitkan minat siswa untuk berprestasi. Guru yang rindu pembelajaran pasti sudah saling mengenal diantara guru dan siapa siswanya. Jangan murid diharuskan mengikuti alur pemikiran guru, namun guru harus bisa masuk kedunia siswa baru mau dibawa ke mana siswa tersebut. Dengan demikian mereka saling merindukan dalam pembelajaran. Jadikan guru itu seolah-olah tidak ke mana-mana namun perasaan siswa guru itu berada di mana-mana. Pada akhirnya sang murid akan belajar walaupun tidak di ajar.
  • Senang berada di kelas dan sekolah
Ciri ini hanya sabagai akibat dari ciri tersebut di atas. Dengan sendirinya guru yang senang berada di tengah siswa berarti mereka pasti pintar dalam segala bidang baik akhlak, ilmu dan seninya.
  • Rindu akan Siswa
Seorang guru yang kangen sekolah ketika ada liburan bisa dikatakan guru peduli siswa. Bagaikan pohon lapuk tidak bebuah. Orang yang mempunyai ilmu tidak menyebarkan orang lain akan percuma seperti pohon yang tidak berpungsi bahkan untuk kayu bakarpun tidak bisa. Dengan sendirinya kecintaan guru terhadap siswanya dikarenakan keinginan yang tulus untuk mensukseskan anak didiknya sehingga berguna bagi nusa, bangsa, agama dan keluarga serta dirinya.
  • Rindu dengan Perkembangan Ilmu Teknologi
Saatnya berubah. Tidak berubah berarti tidak bergerak, sedangkan tidak bergerak berarti mati. Apakah guru saat ini sudah berubah? Guru yang mulai gemar membaca, beli Lap Top, mulai menggunakan LCD itulah perubahan. Kalau hanya menrubah RPP dan sederet perangkat lain itu belum berubah.
Guru yang senang membaca dan merambah ke dunia maya atau internet, mereka tentu akan memiliki wawasan yang terus berkembang dan dengan itu pula guru akan merasa enjoy di hadapan siswanya.
  • Senang berkreasi dalam seni
Mati satu tumbuh seribu. Ini cocok bagi guru yang selalu mempunyai ide atau gagasan yang baru untuk memecahkan permasalahan baik saat di tengah siswa maupun di lingkungan sekolah. Orang penuh imajinasi dan kreativitas berangkat dari seringnya mereka menghadapi dan menyelesaikan cobaan yang mereka alami. Ada motto yang menarik “Jangan minta anda dijauhkan dari ujian, namun mintalah diberi kemampuan untuk menyelesaikan ujian tersebut. Karena kualitas hidup itu diukur dari sering dan berhasilnya mereka menghadapi ujian.
  • Rindu dengan Kejujuran
Hampir setiap ada ujian akhir nasional masih banyak menyisakan kecurangan-kecurangan yang ingin mensukseskan nilai tanpa kerja keras. Entah ini gara-gara semua lini kehidupan dibuat instan sehingga merambah ke dunia pendidikan yang serba instan pula.
Hancur kalau dunia pendidikan sudah diracuni dengan kebohongan dan ketidak jujuran. Seperti yang beliau ungkapkan dalam sarasehan jajaran diknas pendidikan Magetan di Sarangan Bapak Rasiyo mengatakan selama ada dusta diantara kita UAN akan jalan terus. Mengapa UAN ada substansinya gara-gara ada kecurangan pada nilai sehingga siswa terus naik dan lulus 100% maka pemerintah meluncurkan EBTANAS dan sekarang jadi UAN.
Kalau kita jujur kemungkinan kelulusan UAN hanya berkisar 60% bahkan ada sekolah yang tahun kemarin tidak lulus 100%. Maka mari kita beri pelajaran kepada pemerintah bahwa memang pendidikan kita ini masih berada diurutan buncit dengan kejujuran sehingga kelulusannya sangat mengkawatirkan.
Memang pemerintah dan guru adalah setali tiga uang. Ketika mengetahui lulusannya tidak berhasil, pemerintah mengadakan konversi sehingga lulusannya menjadi lebih baik.
Jadi kejujuran untuk berani melangkah adalah ciri  bagi guru sejati
  • Rindu akan prestasi
Guru yang mempunyai impian mau dibawa kemana anak kita, akan membuat kinerja guru terfokus pada impian tersebut untuk mewujudkannya. Impian akan memaksa guru untuk belajar dan bekerja semaksimal mungkin demi tercapai impian tersebut. Contoh guru seni budaya mempunyai program setiap akhir tahun anak kelas tiga harus mengadakan  pagelaran seni rupa, seni kerajinan, busana , tata boga, seni musik, sastra yang dikemas dalam pagelaran kelas. Dengan program tersebut anak kelas dua dan kelas satu akan mempersiapkan diri seperti kakak kelasnya. Guru senang akan prestasi selalu membuat siwanya mempunyai standar kemampuan yang ingin diraihnya.
  • Tangguh, Visioner, Ulet, dan Tahan Banting
Keuletan dan pandai mencari jalan keluar serta berwawasan ke depan merupakan kemampuan yang harus dimiliki guru. Kemampaun mempersiapkan siswanya untuk mengarungi hidup dikelak kemudian hari sehingga bisa bertanggung jawab dipundak sendiri dan sosial adlah guru yang sejati.
Mari kita tanya pada diri kita sendiri bagaimana profil kita ini. Dalam kita menghadapi proses sertifikasi apakah anda termasuk ciri-ciri diatas?. Kalau ya anda pantas untuk mendapatkan tunjangan satu kali gaji pokok. Selamat menjalankan tugas demi generasi esok.


MEMBINA  KESADARAN  MENDIDIK
DI KALANGAN  PARA  GURU
            Guru adalah  “ Orang yang kerjanya mengajar “kata Kamus W.J.S. Poerwadarminta. Jadi guru tugas utamanya adalah mengajar dna mendidik sehingga anak mengalami perubahan dalam proses belajar mengajar. Proses tersebut ditandai perubahan menuju yang lebih positif, baik sikap,, pengetahuan dan ketrampilan (Iptek dan Imtaqnya).
            Membaca artikel Bapak Drs. Marsidi, A. Ma. dalam “Membina Kesadaran dipimpin Di Kalangan Para Guru” pada Media bulan Maret 2003, menandakan bahwa pimpinan maunya hanya memerintah dan minta untuk diperhatikan seperti jaman masih peodal, sehingga  guru  dianggap tidak mau dipimpin oleh atasannya. Penulis juga tidak menolak  bahwa KKD (Krisis Kesadaran Dipimpin) memang ada, seperti yang diungkapkan antara lain : l. guru menganggap kepemimpinan kepala sekolah banyak kelamahan/kekurangan. 2.  Guru mempunyai latar belakang pendidikan yang beragam. 3. Guru memiliki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. 4. Guru mempunyai pengalaman mengajar yang lebih banyak. 5. Guru memiliki usia yang lebih tua. 6. Guru memiliki harta yang lebih banyak. 7. Guru tidak tahan kritik.
Dari ketujuh poin tersebut memang juga ada benarnya. Kebanyakan mereka yang terkena krisis tersebut belum menyadari akan jati dirinya. Kalau saja seseorang menempatkan diri sesuai dengan kedudukan dan tugasnya, penulis kira tidak ada yang perlu diperdebatkan.
Tugas Guru.
            Menurut kamus tersebut tugas guru adalah mengajar dan mendidik. Dalam proses mengajar diharapkan dapat memberikan perubahan pada diri si anak. Perubahan ini tentunya menuju ke arah yang baik. Seperti yang penulis ungkapkan  dalam Media, Mei 2003  judulnya “  mempunyai makna yang mendasar bahwa mengajar hanya sekedar menstranfer ilmu belaka, sedangkan mendidik mencakup segala hal yang berhubungan dengan kehidupan manusia.
Kalau saat ini seorang guru masih menstranfer ilmu tanpa menyentuh bagaimana car hidup yang sukses di dunia dan akherat, berarti percuma pemerintah memberikan dana sertifikasi. Kepiawian guru dalam pembelajaran juga dapat ditentukan oleh kepala sekolah.
Nilai kepala sekolah tidak hanya diukur seperti kepatuhan tidak mengritik oleh gurunya,  namun kepala sekolah yang berhasil adalah kepala yang membuat guru bekerja tanpa diawasi dan disiplin tanpa disuruh.  Bagaimanpun pandainya guru kalau tidak bisa  membuat anak berubah  menuju kebaikan berarti guru tersebut pantas dikembalikan ke masyarakat.
Keberhasilan guru dapat diukur dengan bagaimana nilai murid di masyarakat. Nilai murid adalah nilai guru sedangkan nilai guru adalah nilai kepala sekolah, sedang nilai kepala sekolah adalah nilai pengawas atau bisa juga kelompok kepala sekolah dan seterusnya Kasubdin SLTP yang katanya mau diubah lagi jadi SMP dan seterusnya sampai Prsiden dan akan kembali yang paling akhir adalah yang mengamanatkan rakyat.
Nah, di sini para penulis yang budiman mari kita bernyanyi dan memberikan bagaimana cara, metode, solusi atau pemecahan masalah membuat kondisi yang kita dambakan   “guru disiplin tanpa disuruh dan kerja keras tanpa diawasi” bukannya selalu mengkritisi guru harus begini ni ni ni, begitu tu tu tu seperti dalam nyanyian aja. Kita bangsa Indonesia jangan hanya bisa bernyanyi nyaring tetapi “katakan yang anda lakukan dan lakukan yang anda katakan” dan juga lakukan untuk bangsamu jangan menanti perlakuan dari bangsamu.
  1. Guru  Menjabat Wali Kelas
Guru meningkat mendapat tambahan jabatan jadi wakil dari orang tua anak di sekolah maupun di rumah dan di masyarakat harapannya. Peran ganda yang dimiliki guru membuat deretan panjang tugas yang harus dikerjakan. Wali adalah wakil dari orang tua murid yang harus melayani bentuk apapun yang diminta maupun tidak diminta demi perkembangan dan kemajuan murid.
Untuk bisa melayani dengan baik kita perlu belajar dari pramuniaga yang bertebaran di supermarket dan mall, pegawai di suatu bank, pramusaji di Rumah Makan Padang dll. Dari contoh-contoh tersebut tentunya anda akan menemukan  kegiatan menyediakan, memenuhi, membantu  kebutuhan yang diinginkan oleh pelanggan atau konsumen dengan berbagai bentuk aksi, yaitu : menyapa dengan ramah dan senyum, melayani dengan cepat, tepat waktu, sabar dan aktif, tampil rapi dan simpatik dan memberikan penjelasan dengan lancar dan dapat dimengerti disertai ucapan terima kasih. Bentuk pelayanan yang seperti ini yang mestinya kita tampilkan untuk mendidika anak sehingga anak betul-betul puas dan mengerti setelah kita berikan proses belajar mengajar.
Kapan guru bisa berperilaku minimal seperti itu dan kalau bisa ya bagaikan artis yang selalu dinanti kedatangannya dan disayangi kepergiannya.


B.     Guru Menjabat Kaur dan Wakil Kepala Sekolah
Semua yang dipikul guru adalah sebuah pengabdian demi masa depan bangsa lewat anak sebagai geserasi muda. Jabatan  apapun yang dipikul guru tidak akan terlepas dari tugas pokoknya sebagai orang yang berkecimpung mencerdaskan anak sebagai aset bangsa. Kepala urusan di sekolah merupakan job discription sehingga jelas pekerjaan mereka masing-masing.
Mitra kerja harus berjalan dengan balance dan saling menempatkan diri pada bidang kedudukan dan kegiatan masing-masing, sehingga akan menghasilkan tujuan yang diinginkan tanpa ada rasa iri dan cemburu antara kolega. Kita bangun kondisi sekolah yang rindu ditinggal dan nyaman ditempati. Jadi, nilai kaur berasal dari nilai guru di masing-masing bidang kerja.
C.    Guru Menjabat Kepala Laboratorium dsb
Tugas yang diberikan kepada guru untuk mengelola laboratorium atau perpustakaan dan yang lain memiliki jam setara dengan wakil kepala sekolah yaitu 12 jam mengajar. Dengan demikian diharapkan dapat  melayani para siswanya dengan sebaik-baiknya. Kalau guru dapat memposisikan sebagai pelayan siswa maka akan terjadi kinerja yang sangat baik diantara warga sekolah.
D.    Guru menjabat Piket
Guru yang diserahi tugas piket adalah guru yang pada saat itu mengatur segala kegiatan yang sedang berlangsung. Semua ijin baik dari siswa maupun dari warga sekolah yang lain harus sepengetahuan guru piket, sehingga dapat memperlancar kegitan di sekolah terutama dalam pembelajaran.  
Kesimpulan
1. Semua berpulang dari niat profesi masing-masing pelaku. Walaupun digenjot berbagai metode, cara dan alat, bagi mereka yang tidak cocok dengan bidang garapannya akan mengahsilkan tujuan yang tidak seoptimal seperti yang berbakat dan cocok dengan keahliannya.
2. Orang yang senang dengan bidang kerjanya akan selalu rindu akan kegiatannya, dan selalu menunggu prestasi baik diakhir kerjanya. Dengan harapan tentunya, guru akan selalu ditunggu kedatangannya dan disesali kepergiannya.
3. Guru bukan barang yang harus begini ninini begitu tututu, kalau mereka sadar akan tanggung jawab tentunya akan melaksanaan tugas yang dipikulnya tanpa diawasi dan akan berdisiplin tanpa disuruh.
5. Bukankah nilai kepala sekolah berdasar prestasi anak didik, sepandai apapun yang dipunyai kepala sekolah kalau belum bisa mengkondisikan guru mengajar dikelas selama 2 jam pelajaran terasa bagaikan satu jam pelajaran nampaknya belum bisa dikatakan berhasil dalam menyadarkan guru untuk mengajar.
6. Kalau sudah guru dan sekolah bagaikan “ ikan di dalam kolam”  bukannya “burung di dalam sangkar” berarti pendidikan di situ sudah mengalami peningkatan dan menuai keberhasilan yang pesat. Jadi, guru akan tidak hanya kerasan di sekolah namun di kelas pun mereka akan tidak mau keluar walaupun bel telah berbunyi.



PROFESI  GURU  MEMANG  SUSAH
Guru adalah sosok profesi yang unik. Memang susah menjadi guru, yang selalu menjadi sorotan kalau pendidikan gagal dalam pencapainnya. Sehingga ada guyonan bahwa guru itu tidak usah jelek, memang sudah jelek duluan. Bagaimana tidak jelek proses pembentukan dan bahan bakunya saja kelihatan sekenanya. Jadi wajar kslsu guru kita memang masih banyak yang kurang profesional.
Kalau profesi guru itu sulit dan hanya dipegang oleh orang yang tidak sesuai dengan bidang garapannya maka tunggu saja kehancurannya.
Kita semua tahu betapa tertinggalnya dunia pendidikan kita dengan negara lain. Perwakilan  UNICEF di Indonesia kembali menyorot dengan memberikan “Rapor Merah” terhadap pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan bagi kaum perempuan. Selain itu UNICEF juga menilai bahwa Indonesia tidak serius dalam hal pendidikan, terutama soal anggaran pendidikan. Kepala Perwakilan UNICEP di Indonesia Steven Allen menyatakan bahwa Anggaran pendidikan di Indonesia adalah yang terendah di Kawasan Asia Timur dan Fasifik, padahal menurut mereka Indonesia masuk dalam daftar negara yang dinilai mampu menyediakan sarana pendidikan bagi rakyatnya (Jawa Pos, 26 Desember 2003)
Tuntutan guru memang terlalu berat, kalau kita betul-betul  memerankan sebagai seorang tokoh guru sejati yang profesional.  Sebagai seorang  pendidik tentu kita harus ahli beracting dengan berbagai peran. Seorang guru tidak hanya mempersiapkan anak didiknya sukses di dunia, tetapi juga suksses di akhirat nanti. Inilah sekelumit peran guru di sekolah antara lain:
A.    Guru sebagai Pelayan
Perubahan jaman membuat peran guru tidak seperti yang digambarkan umar bakri zaman dulu yang selalu kelihatan serba tahu dan ditakuti siswanya. Sekarang sangat tepat diposisikan guru sebagai pelayan untuk memenuhi  segala kebutuhan dan masalah yang murid hadapi dan pelajari. Kita harus melayani semua kebutuhan murid demi keberhasilan mereka.
Kita sebagai pelayan harus takut kepada murid. Takut bukan berarti segalanya menurut, namun takut jika murid, setelah diajar masih belum tahu apa-apa dan tidak ada perubahan sama sekali. Happy ending yang kita harapkan, adalah kepuasan ada di tangan semua pihak, baik anak, orang tua, masyarakat maupun guru itu sendiri. Tuhan sangat suka akan perbuatan yang  bisa menyenangkan pihak lain.
B.     Guru sebagai Artis
Penampilan guru yang sederhana memang menjadi patron yang sampai sekarang mungkin masih terpatri di jajaran guru, namun kesederhanaan jangan membuat kita tidak ingin tampil menarik di hadapan murid. Guru harus tampil semenarik mungkin sehingga murid betul-betul mendambakan kedatangannya untuk beraksi dan berkreasi di depan kelas.
Dengan kesederhanaan dan kepasrahan itu,  sehingga banyak guru bilang “pokoke mulang, materi habis, selesai sudah tugasnya.” Era sekarang sudah bukan zamannya lagi untuk tidak ingin tampil memuaskan di hadapan murid. Dalam aktingnya, artis tidak gampang juga beraksi di depan kamera, namun juga bisa berulang kali demi kepuasan penonton. Berbeda dengan guru, harus siaran langsung yang tidak bisa mengulang akting pada materi yang sama, kecuali anak bertanya.
C.   Guru sebagai Mitra
Guru sekarang harus bisa memposisikan diri sebagai teman berbagi duka, lara, derita, maupun sengsara. Sedangkan teman senang biasanya hanya berlangsung sebentar dan akan cepat berlalu. Dalam  mengejar ilmu sehingga bisa berhasil sampai tuntas, memang tidak mudah seperti membalik tangan bim salabim abra kedabra langsung jadi, nampaknya mustahil kita lakukan.
Dengan kita memposisikan sebagai mitra, anak tidak akan sungka lagi untuk berbagi masalah yang mereka hadapi, untuk berprestasi. Mereka akan mencurahkan keluh kesah dan kesulitan yang dihadapinya.

D.    Guru sebagai Bapak/Ibu (Orang Tua)

Sekolah merupakan keluarga besar. Anak merupakan satu-satunya yang dibanggakan oleh guru dan anggota keluarga yang lain. Jadi yang menjadi tumpuan dan segala kegiatan berfokuskan pada pengorbitan segala keinginan siswa untuk maju dan berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri si anak.
Kita sebagai bapak/ibuknya harus betul-betul tahu bahwa anak mempunyai perbedaan individu. Individual differencess itulah  yang membuat pelayanan pun berbeda pula. Di sinilah beratnya guru, harus tahu waktu dan ruang serta  bentuk dan cara yang selektif dalam memberikan materi pelajaran. Sebagai orang tua, guru harus mampu untuk memfasilitasi keinginan anak sesuai dengan potensi yang ada, demi masa depannya.
E.     Guru sebagai Pemimpin
Setelah Si-Umar Bakrie masuk dalam kelas, ia sebagai pimpinan penerang dalam kegelapan. Jadi pemimpin tidak harus memerintah, namun sebaliknya seorang pemimpin merupakan abdi rakyat, sedangkan kalau di sekolah menjadi abdi murid, yang siap segalanya untuk membantu apa saja yang dibutuhkan oleh muridnya dalam pencapiaan tujuan belajar. Pemimpin yang baik dapat memposisikan dirinya di belakang memotivasi untuk berprestasi yang tinggi.
F.     Guru  sebagai  Ustad
Tidak ubahnya guru itu ibarat ustad sedang mengaji dengan santrinya, ini sangat terasa bila menjelang hari Raya Idhul Fitri. Sekolah dijadikan pondok musiman yang membuat guru harus mampu memberikan  materi agama yang mungkin merupakan hal baru bagi guru selain Guru Agama.
Guru sangat senang apabila bisa menarik santrinya bagaikan dai kondang dengan sebutan sejuta umat. Namun sebaliknya yang kurang memahami ajaran agama secara mendalam merupakan dilema tersendiri, yang membuat guru harus belajar untuk menjadi ustad yang kondang.
Itulah keberuntungan guru yang profesional, mengharuskan mereka untuk belajar dan belajar meningkatkan ilmunya untuk menservis, sehingga tidak mengecewakan murid/santrinya di depan panggung. Guru sebagai ustadz memiliki investasi akhirat yang sangat besar dan itulah guru yang benar-benar  pendidik.

G.    Guru Sebagai Hakim.

       Dalam melaksanakan tugas yang mulia, guru harus berani dan tidak ragu dalam mengambil keputusan untuk menindak tegas pelanggaran siswanya. Dalam menjatuhkan sangsi, kalau kita berporos pada akal dan jangan sekali-kali menggunakan perasaan dalam penentuan keputusan. Contoh yang sederhana saja, kebanyakan para guru dalam menjatuhkan sanksi apabila muridnya bertanya atau ngerpek dalam ujian sangat lemah dan bahkan cenderung untuk dibiarkan, sehingga anak akan melanggar dan melanggar lagi dikemudian hari.

Jadi kalau guru menginginkan muridnya tertib, beranilah mengambil keputusan untuk menjatuhkan sanksi kepada pelanggar yang saat ini semakin menggila dan meraja lela. Jadilah guru sebagai hakim yang adil.

H.    Guru sebagai Olah Ragawan

     Tidak seharusnya olah raga diserahkan sepenuhnya terhadap pundak guru Olah Raga. Jika di suatu sekolah gurunya senang berolah raga, maka di situ pula akan muncul generasi penerus yang suka berolah raga pula. Dampak langsung akan terjadi pada  pembinaan olah raga akan semakin diperhatikan sehingga akan muncul berbagai prestasi di bidang olah raga.
Sedangkan terhadap penerimaan siswa baru akan kelihatan bahwa anak yang hobinya olah raga akan memilih sekolah yang berpotensi membina di bidang olah raga.

I.       Guru Sebagai Motivator

       Banyak guru yang kurang  piawai/mahir dalam memotivasi anak untuk belajar. Seolah-olah mereka sudah puas dengan mentransfer ilmu dengan baik. Namun di balik itu masih banyak yang harus dilakukan untuk anak didiknya diantaranya memberikan motivasi, membangkitkan semangat dan membakar niat untuk memburu cita-citaSaat ini banyak sekolah yang melakukan istighozah untuk membangkitkan dorongan dalam belajar untuk menghadapi ujian dengan  mendatangkan para Kyai.
Guru yang pintar adalah hebat, tetapi lebih hebat lagi jika di dalam pembelajarannya sang-guru  mampu juga membangkitkan semangat untuk belajar terus walaupun tanpa diawasi. Sehingga di rumah pun anak didik selalu teringat dan semangat untuk mempelajarinya tanpa disuruh dan diawasi.
Contoh bagaimana supaya anak didik kita gemar infaq atau sodaqoh. Ketika penulis di kelas anak ditanya wahai si Fulan berapa uang sakunya? ..Empat ribu, terus seandainya uang Rp. 4.000 itu diinfaqkan seribu masih berapa uangnnya. Si Fulan atau yang lain kebanyakan mereka menjawab masih 3 ribu rupiah. Disitulah kita menjelaskan problema berinfaq. Kalau saya tanya sisa uang  3.000 itu buat apa?..beli jajan. Kalau sudah beli jajan jadi apa? Jadi daging, keringat, lemu, kotoran dll. Jadi intinya uang 3.000 akhirnya hilang, dan justru yang seribu untuk amal tadi masih utuh dan bahkan dicatat oleh Malaikat Roqib dengan tinta emas sebagai amal kebaikan. Pernah satu kelas yang hanya 19 anak mendapatkan infaq Rp. 51.000        

Kesimpulan

Guru tak ubahnya dalang yang serba bisa dalam melakonkan berbagai watak dalam ratusan wayang yang berbeda karakter sehari-harinya. Dalam perkembangannya pedalangan semakin canggih saja dalam bentuk penampilan, namun masih dalam koridor seni wayang kulit dengan berbagai campuran seni yang lain.
Guru nampaknya sekarang diberi kebebasan dalam mengolah anak didiknya, kalau kita simak perubahan kurikulum satu dengan yang lain terkadang sangat mustahil untuk diikuti, karena  belum dilaksanakan yang satu muncul lagi yang baru. Jadi yang diutamakan sekarang adalah hasil akhir dari berbagai proses yang dicoba oleh sang guru.
Potensi dasar yang dimiliki murid, merupakan modal dasar untuk diolah menjadi aset yang mahal harganya dan bisa menjadikan pijakan hidup baik secara individu maupun sosial anak di kelak kemudian hari.


GURU  BUKAN   MAJIKAN
TETAPI   SEBAGAI   PELAYAN  SISWA
            Pernah suatu ketika penulis mendengarkan pengajian dari Bapak Kyai Hambali dari Mojokerto di Masjid Taman, Madiun yang intinya bahwa amal atau perbuatan yang paling disenangi Allah adalah “menyenangkan orang lain” jadi bagi kita orang Islam sudah bukan barang atau perbuatan yang asing bahwa “menyenangkan orang lain adalah merupakan kewajiban”. Kalau kita sedikit saja mengikuti Rosul tentu kita tidak akan merasa  menjadi orang penting dan minta diperhatikan.
Contoh lain, setiap Nabi ke masjid untuk sembahyang subuh selalu ada kotoran di depan rumahnya dan dengan sabar Nabi membersihkannya, suatu hari kotoran tersebut tidak ada, sehingga nabi bertanya pada sahabat :  kemana si pembuang kotoran di depan rumah itu?. Para sahabat menjawab: dia sedang sakit, mendengar dia sakit, mari nanti setelah sembahyang subuh kita ke sana. Setelah dido’akan, si pembuang kotoran tersebut sembuh dan seketika itu masuk Islam. Dari situ kita bisa membayangkan bagaimana gambaran akhlak seorang pemimpin melayani rakyatnya bahkan musuhnya sekalipun.
Pegawai negeri adalah abdi masyarakat, bukannya golongan ningrat sebab uang (gaji) yang kita peroleh dari rakyat. Jadi kita mendapat amanat dari rakyat untuk melayaninya dengan baik dan kuat serta bersahabat. Pelayan  harus menyenangkan majikan, bukan sebaliknya malah minta diperhatikan. Pelayan harus mempermudah segala urusan bukannya mempersulit orang lain bahkan merasa orang penting sehingga sulit untuk ditemui.
Sebagian besar orang kita kalau sudah menjadi pejabat susah untuk dicari, bukannya karena sibuk, tetapi kelihatan menyibukkan diri, sehingga kelihatan menjadi orang penting yang sulit unrtuk bertemu dengan rakyatnya. Kita perlu mencontoh presiden kita yang ke-4 Gus Dur dalam  keinginannya untuk bertemu atau menjamu rakyatnya, sampai dia membuka kantor sendiri demi rakyatnya yang kemungkinan sulit untuk bertemu, karena  terbentur birokrasi protokoler kepresidenan.
Apalagi sosok seorang guru, bukannya kita menjadi orang yang serba tahu dan harus dituruti semua keinginannya, tetapi kita adalah sebagai pembantu dari murid yang lebih berat pekerjaannya  untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru sebagai pelayan harus bisa membuat suasana menyenangkan. Apabila datang membuat senang dan sebaliknya apabila pulang mereka akan  terasa kurang serta hilangan. Kedatangannya selalu dinanti bukannya membuat anak tidak senang dan menakutkan sehingga membuat anak tidak bisa konsentrasi untuk belajar
Guru yang efektif dan efisien seperti “Tipe Guru Wajib” yang diungkapkan  Drs. Yusron Hadi Kepala Sekolah SLTPN 3 Porong Sidoarjo, yaitu keberadaannya sangat disukai, harus ada, wajahnya selalu jernih dengan penuh senyum, tutur katanya sopan, tak pernah melukai hati siapapun, ramah, sabar, penampilan selalu rapi, etos kerjanya sangat tinggi, tak ada istilah cari muka, dia tak memandang muridnya sebagai bawahan, dan keadaan keluarganya serasi.
Kebiasaan kita senang kalau kita disanjung, dipuji dan ABS (asal bapak senang) atau asal menyenangkan atasan walaupun dengan jalan melaporkan hal-hal yang selalu baik meskipun sebenarnya jelek atau belum selesai atau bahkan menipu sekalipun.  Kebanyakan orang Indonesia memang demikian adanya. Seperti yang diceritakan Gus Dur dalam anekdotnya “suatu ketika ada kapal yang mau tenggelam, sedangkan penumpangnya dari berbagai negara. Disitu ada juga jin yang ingin membalas budi dengan menolong orang-orang yang ada di situ, dengan berkata : ”Hei orang Inggris kau minta apa, dia menjawab saya ingin dipulangkan.” Mengapa? Karena apartemen saya bagus pabrik saya tidak ada yang mengurus dsb. Kemudian dengan kekuatannya  jin tersebut memulangkan orang Inggris itu. Sedang orang Jerman ditanya juga sama ingin dipulangkan, Mengapa Jin bertanya. Karena istri saya masih muda mobil saya bagus dan pekerjaan saya banyak. Tibalah Jin bertanya kepada orang yang terakhir kebetulan dari Indonesia: minta apa hei orang Indonesia? Saya minta orang-orang yang tadi minta dipulangkan, dikembalikan lagi kesini. Mengapa? Jin bertanya penuh curiga. Karena kalau saya pulang tidak punya rumah, hutangnya banyak, kos belum bayar sehingga lebih baik kita mati bersama di sini. Beginilah kebanyakan orang Indonesia kalau ada orang yang sukses, orang lain akan tidak senang dan iri terhadapmya.
Sulit memahami sikap orang Indonesia yang cenderung menutup diri, tidak terbuka sehingga sulit juga untuk menyadari kenyataan diri sendiri. Apalagi kalau profesi mereka menjadi seorang guru akan berakibat terhadap anak didik sebagai generasi penerus kita. Guru merasa banyak ilmu sehingga malas untuk membaca. Kadang-kadang kalau ditanya muridnya dan belum bisa menjawab, mereka marah dan justru akan membunuh kreativitas anak didik. Penulis sering juga mengatakan kepada anak didik untuk bertanya dan kalau perlu mengecek gurunya siap atau tidak, kalau anda tidak pernah bertanya nanti akan dikibulin bulat-bulat.
Kerterbukaan sangat didambakan semua lapisan manusia, apalagi kita seorang guru yang salalu berhadapan dengan anak manusia yang selalu membutuhkan bantuan kepada orang lain. Manusia hidup di atas pundak pribadi dan sosial. Kehidupan sosial inilah yang paling sulit untuk dipelajari dan ditumbuh kembangkan secara baik dan benar serta inovatif. Guru adalah penerang dalam kegelapan, tetapi jangan sampai seperti lilin yang menerangi lingkungan tetapi mereka akan mati terbakat oleh dirinya sendiri.
Akibat yang kita rasakan dari pegawai (priyayi) yang sering mengereh orang lain justru sebaliknya negara kita sekarang menjadi negara yang disetir (menjadi bola pingpong) negara lain, dan yang paling manjur baru mampu mengekspor tenaga kasar untuk menghidupi dan menambah devisa negara. Hampir sembilan tahun sudah kita belum menemukan titik terang untuk mengatasi krisis multi dimensi ini. Biaya ekonomi tinggi sebab semua pekerjakan harus diserta upeti.
Indonesia yang selama ini “subur makmur dan gemah ripah loh jinawi” hanya menjadi ajang perebutan dan pengerukan sumber daya alam oleh negara lain, karena kita belum mampu untuk menemukan dan mengolahnya. Indonesia saat ini baru dikenal  karena Pulau Bali dan Borobudur. Dengan ketradisionalan dan kepolosan kita beramai-ramai mengirim tenaga kasar untuk menambah pahlawan devisa kita, bukannya tenaga ahli yanga dihargai dengan nilai tinggi.
Akhir kata, kita sebagai abdi, pelayan, pembantu dan perantara masyarakat  harus tahu kondisi yang kita hadapi. Bukan malah sebaliknya kita  minta diperhatikan dan dilayani, seperti pegawai jaman penjajahan yang selalu dipuji dan diberi sesaji serta upeti.
Seharusnya guru selalu ditunggu kedatangannya untuk menyampaikan ilmu (iptek dan imtaq) serta bersedia  melayani sang generasi yang dinanti kehadirannya di masa akan datang guna menggantikan generasi tua. Harapannya mereka bisa menahkodai negara ini dengan penuh kesejahteraan dan keadilan serta diperhitungkan oleh negara lain. Bukannya menjadi pembantu di rumah sendiri.


GURU  SEBAGAI  PELAYAN   MENCEGAH  STRESS
 DI  MASA  MENDATANG
Pendahuluan
            Dunia saat ini terasa sangat sempit, dengan datangnya kemajuan teknologi yang begitu pesat. Demikian juga perkembangan manusia yang begitu berjubel dalam mempertahankan hidupnya, sehingga banyak pula yang tidak bisa menikmati hidup dengan layak dan panjang umur. Kurang siapnya para pegawai negeri untuk pensiun kebanyakan mereka tidak bisa menikmati sisa hidup di keluaraga maupun di masyarakat. Sebagai kelanjutan dari tulisan kami dengan judul “Guru bukannya sebagai majikan, tetapi sebagai pelayan siswa” penulis  ingin mengutarakan dampak dari guru sebagai pelayan yang bisa membuat hidup enak dan umur panjang. Walaupun hak prerogatif  umur ada di tanganNya, namun salah satu dari membina dan merawat umur panjang adalah menyadari kenyataan yang ada.
            Fenomena kurang menyadari realita akan perputaran roda hidup, banyak menimbulkan penyakit yang berakibat pada pendeknya usia manusia. Generasi tua yang mayoritas masih terkena penyakit kolonial (mental penjajah) akan menimbulkan masalah setelah mereka lepas dari pekerjaan (pensiun).
Mental Priyayi
            Peninggalan penjajah yang bisa dirasakan oleh generasi sekarang adalah pemasungan ide atau kreativitas generasi penerus, sehingga kebiasaan main perintah, dan kabiasaan asal bapak senang sangat melekat di hati para generasi tua. Kalau hal ini tidak bisa dikendalikan akan berakibat berbahaya bagi dirinya maupun lingkungannya.
 Kalau kita cermati mereka yang berstatus sebagai pegawai negeri apalagi hidup di pedesaan, merupakan penghargaan yang sangat tinggi baginya dan akan sulit  melepaskan predikat tersebut, walaupun mereka sudah tidak bekerja lagi (pensiun). Mereka inilah yang mayoritas akan mengalami tekanan batin, sehingga bisa berakibat fatal pada kesehatan dirinya. Kebanyakan mereka akan terkena  tekanan batin/stress berat sehingga mengakibakan timbulnya berbagai penyakit dan akan berakibat pada kematian dini.
Kata syair lagu “lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati” Memang betul adanya bahwa perubahan suasana kantor yang setiap hari mereka geluti, tiba-tiba mereka tidak ada pekerjaan akan menimbulkan masalah tersendiri, sehingga perlu sekali adanya masa persiapan pensiun untuk mempersiapkan para pegawai negeri beradaptasi dengan lingkungannya. Sebetulnya lingkungan ini tidak baru, kalau kita menyadari bahwa perubahan ini memang harus terjadi dan berlangsung pada diri kita.
Jika  menyadari pada suatu saat nanti bahwa kita akan tidak bekerja lagi seperti amtenar kota yang tiap pagi berangkat dengan seragam dan bersepatu bagus kemungkinan akan tidak terkena stress, sehingga bisa menyesuaikan diri dengan keluarga dan lingkungannya. Kondisi ini kemungkinan akan semakin bisa menikmati sisa hidup dengan keluarga juga tetangga dan beguna bagi masyarakat sekitarnya.
Abdi Negara
Kata abdi bisa banyak mengandung makna. Menurut kamus W.JS. Poerwadarminta, abdi berarti hamba, orang bawahan, budak tebusan. Jadi, kita sebagai abdi negara bukanya pegawai yang minta dilayani dan dikasih upeti supaya mengerti. Namanya saja budak ya kita harus menyadari bahwa, pekerjaan kita demi kelangsungan dan kepuasan seluas-luasnya untuk hajat hidup orang banyak. Kalau kita menyadari hal itu, kita akan menikmati sisa hidup di masyarakat dengan bebas serta tidak merasa diperintah oleh pekerjaan bahkan akan menimbulkan kreasi seni dalam hidup tersendiri.

Tidak ada komentar: