Social Icons

http://www.youtube.com/user/MrEdysiswanto?

Selasa, Juni 02, 2009

UNAS ANTARA KEJUJUARAN DAN HARGA DIRI

Menjelang pengumuman hasil UNAS, semua orang tua dan peserta didik merasa cemas dan berharap hasil UNAS sangat memuaskan. Berita seputar UNAS pada tahun ini justru membuat malu para insan pendidikan. Apa yang terjadi tahun ini malah lebih menghebohkan dari tahun-tahun sebelumnya. Masih terngiang ditelinga kita, bahwa UNAS telah ternoda oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Dengan ambisi untuk meloloskan peserta didiknya 100%, maka berbagai usaha telah dilakukan, bahkan racunpun diberikan tanpa memperhatikan efek negatif berikutnya, seperti menyontek temannya, SMS-an, ada yang mau mencuri naskah seperti di Kota Ngawi dan tahun ini juga Kota Ngawi muncul lagi ke permukaan gara-gara SMAN 2 Ngawi peserta didiknya menjawab bersama dan salah bersama sehingga mengulang bersama.

Masih adakah di negeri ini yang namanya kejujuran?. Apa sih yang di cari oleh para guru, kepala sekolah, kepala dinas pendidikan, bupati dan gubernur serta menteri pendidikan kalau UNAS tiap tahun menghabiskan dana milyaran rupiah hanya digunakan untuk menaikkan harga diri tetapi mengorbankan kejujuran. Seperti yang diungkapkan oleh ketua BSNP Prof. Eddy Mungin Wibowo bahwa kecurangan itu mayoritas terjadi di daerah. ”Total ada 33 SMA dan yang paling memprihatinkan lagi adalah bentuk kecurangan di Kabupaten Kendari, Sulawesi Tenggara. Seluruh SMP dan MTs di kabupaten itu harus mengulang ujian lantaran mendapatkan kunci jawaban unas (Jawa Pos, 2 Juni 2009).

Sebenarnya kalau kita berani jujur, justru pendidikan semakin berkualitas. Dengan menjunjung tinggi kejujuran, maka jati diri atau roh pendidikan mulai menampakan kualitasnya. Jangan berharap pendidikan kita akan berkualitas kalau kita masih mengedepankan harga diri demi popularitas, namun dibaliknya penuh kecurangan.

Untuk mengatasi kecurangn pelaksanaan UNAS, maka satu-satunya jalan adalah soal UNAS harus dibuat 10 atau bahkan 20 paket soal yang berbeda. Paket soal berbeda tidak hanya nomornya di acak persis tidak ada bedanya, namun harus berbeda jawabannya.

Kita tengok jauh kebelakang dunia pendidikan kita. Ketika ada prosesi kenaikan kelas, hati para siswa berdebar-debar, apalagi melihat pengumuman kelulusan bisa senam jantung dibuatnya. Dengan tertutupnya pintu kecurangan, maka guru dan peserta didik serta semuanya akan semakin giat dalam mempersiapankan UNAS sampai tuntas.

Terjadinya ketidak jujuran diawali dari proses ulangan harian dan ulangan semesteran. Namun ulangan harian tingkat kejujurannya lebih baik dari pada ulangan semesteran, karena tidak ingin guru bidang studi itu mendapatkan nilai palsu atau nilai bukan dari keringat peserta didik sendiri. Para guru lebih percaya pada nilainya sendiri dari pada nilai hasil ulangan semesteran. Mengapa demikian, karena ulangan semesteran pengawasannya lebih longgar . Sedangkan pengawasan UNAS paling longgar, sehingga sering terdengar syair berdarah sampai ketelinga kita yaitu: ”tidak belajar saja naik kelas apalagi belajar. tidak belajar saja lulus apalagi belajar”.

Sebenarnya pemerintah sudah berusaha untuk menciptakan kejujuran dengan membentuk TPI dan melibatkan kepolisisan. Keberadaan Tim Pemantau Independen dan kepolisian merupakan pengamanan dan pengawasan terhadap jalannya UNAS. Namun dalam prakteknya, perekrutan tim ini pada awalnya juga nampak sekenanya. Ada mahasiswa, ada pejabat kelurahan atau kecamatan, ada juga dosen, atau yang lainnya, sehingga sampai saat ini keberadaan TPI belum begitu berarti. Mereka belum berani mengungkapkan apa yang sesungguhnya terjadi selama proses pelaksanaan UN, atau mungkin mereka seolah-olah tak mau tahu.

TPI hanya akan menambah dan menghamburkan uang negara yang mestinya bisa digunakan untuk pembiayaan pembuatan soal UNAS 10 atau 20 paket yang berbeda. Jika soal UNAS sudah 20 paket, maka TPI tidak diperlukan. Pengawaspun semakin ringan, karena dijamin tidak akan saling menyontek. Sedangkan pihak yang ingin membantupun akan kerepotan sendiri.

Segala usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengukur kualitas pendidikan di negara kita yang tercinta ini, tidak akan berhasil tanpa ada kejujuran. Bahkan tanpa kejujuran akan meracuni peserta didik sekaligus menghancurkan generasi penerus mendatang.

Demi menjunjung kehormatan pendidikan di Indonesia yang tercinta ini pemerintah melalui BSNP harus berani mengambil kebijakan untuk membuat 10 atau 20 paket/jenis soal yang berbeda untuk tahun depan, sehingga nilai yang diperoleh, betul-betul merupakan hasil keringat siswa sendiri dan dijamin steril dari kejahatan.

Ketidak jujuran harus dibasmi sedini mungkin, kapan lagi kalau tidak mulai sekarang, dan siapa lagi kalau bukan kita.

Mari bersama-sama kita perbaiki proses pembelajaran yang merupakan jantungnya pendidikan, sehingga belajar merupakan kebutuhan yang dirindukan oleh pendidik maupun peserta didik demi UNAS yang jujur nanti.

Tidak ada komentar: