Ketika Ilmu Kehilangan Kehormatan: Alarm bagi Masa Depan Indonesia dalam Perspektif Al-Qur’an
Pendidikan adalah fondasi kemajuan bangsa. Namun, ketika muncul polemik mengenai latar belakang pendidikan seorang pemimpin nasional, kita patut merenungkan kembali arah bangsa ini: apakah ilmu pengetahuan, prestasi, integritas, dan karya nyata masih mendapatkan tempat yang semestinya dalam kehidupan bernegara?
Polemik mengenai latar belakang pendidikan Gibran Rakabuming Raka seharusnya tidak berhenti pada persoalan ijazah semata. Lebih jauh, persoalan ini perlu menjadi pintu masuk untuk mempertanyakan apakah Indonesia telah memberikan penghargaan yang adil kepada mereka yang tekun belajar, berprestasi, berkreasi, dan berjuang mencerdaskan kehidupan bangsa.
Al-Qur’an Memuliakan Ilmu, Bukan Keserakahan
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
Ayat ini menegaskan kemuliaan ilmu dalam pandangan Islam. Ilmu bukan sekadar gelar akademik atau selembar ijazah, melainkan pengetahuan yang membimbing manusia menuju kebenaran, kebijaksanaan, dan kemaslahatan.
Karena itu, bangsa yang menghargai ilmu semestinya memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk berkembang berdasarkan kemampuan, prestasi, karakter, dan karya mereka. Jangan sampai anak-anak yang belajar dengan sungguh-sungguh justru kehilangan kepercayaan terhadap pendidikan karena merasa bahwa akses terhadap kekuasaan lebih menentukan daripada kompetensi dan integritas.
Jangan Biarkan Kekuasaan Mengalahkan Keadilan
Al-Qur’an juga memberikan peringatan keras tentang amanah dan keadilan. Dalam Surah An-Nisa ayat 58, Allah SWT memerintahkan agar amanah disampaikan kepada yang berhak menerimanya dan agar manusia menetapkan hukum dengan adil.
Prinsip ini relevan dalam kehidupan bernegara. Jabatan publik bukanlah hadiah bagi keluarga, kelompok, atau kepentingan ekonomi tertentu. Jabatan adalah amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab, kemampuan, kejujuran, dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat.
Jika kekuasaan hanya berputar di antara kelompok yang memiliki modal dan pengaruh, sementara kesempatan masyarakat luas semakin terbatas, kita patut mempertanyakan apakah prinsip keadilan benar-benar dijalankan. Namun, tuduhan mengenai adanya desain oligarki untuk membodohkan rakyat harus dibuktikan melalui fakta, kebijakan, dan tindakan yang dapat diperiksa, bukan sekadar dugaan.
Al-Qur’an Menentang Kerusakan dan Keserakahan
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qasas ayat 77:
“Dan janganlah engkau berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.”
Pesan ini mengingatkan bahwa kekayaan dan kekuasaan tidak boleh dijadikan alat untuk menindas, mengeksploitasi, atau merampas kesempatan hidup orang lain. Apabila kebijakan publik memperlebar ketimpangan, melemahkan pendidikan, dan menghambat mobilitas sosial, masyarakat berhak mengkritisinya secara terbuka, damai, dan berdasarkan bukti.
Mencerdaskan rakyat bukan ancaman bagi negara. Sebaliknya, rakyat yang berilmu akan lebih mampu mengenali ketidakadilan, mengawasi kekuasaan, serta menentukan masa depannya secara mandiri.
Jangan Padamkan Harapan Anak Bangsa
Polemik pendidikan seorang pemimpin tidak seharusnya membuat kita menyimpulkan bahwa pendidikan sudah tidak berguna. Justru inilah momentum untuk memperkuat sistem pendidikan, memperluas akses yang adil, meningkatkan kualitas guru, serta memastikan bahwa anak-anak berprestasi dari keluarga sederhana memiliki kesempatan yang sama untuk maju.
Dalam perspektif Islam, kemuliaan manusia tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan, jabatan, atau status sosial. Ilmu harus disertai akhlak, dan kekuasaan harus disertai amanah. Keduanya tidak boleh dipisahkan.
Bangsa yang merendahkan ilmu sedang mempertaruhkan masa depannya. Bangsa yang membiarkan kekuasaan berjalan tanpa pengawasan sedang membuka pintu bagi ketidakadilan. Dan bangsa yang kehilangan keberpihakan kepada pendidikan sedang menjauh dari cita-cita mencerdaskan kehidupan rakyatnya.
Sudah saatnya Indonesia kembali menempatkan ilmu sebagai cahaya, keadilan sebagai pedoman, dan amanah sebagai dasar kepemimpinan. Sebab, sebagaimana pesan Al-Qur’an, kemuliaan bukan terletak pada keserakahan menguasai, melainkan pada tanggung jawab menggunakan pengetahuan dan kekuasaan untuk menghadirkan kebaikan bagi sesama.
Jangan biarkan generasi muda kehilangan keyakinan bahwa ilmu, kerja keras, dan kejujuran memiliki masa depan di negeri sendiri. Indonesia membutuhkan pemimpin yang amanah, rakyat yang kritis, dan pendidikan yang memerdekakan manusia dari kebodohan.


Komentar