Nilai "NgaJi" dan Tantangan Dunia Pendidikan

 

Dampak "NgaJi" Ngarang Biji  bagi Dunia Pendidikan 

Salah satu kritik yang sering muncul dalam dunia pendidikan adalah ketika nilai tidak lagi mencerminkan kemampuan nyata siswa. Istilah "NgaJi" (Ngarang Biji) menjadi sindiran ketika nilai dibuat tinggi demi memenuhi target administrasi, bukan berdasarkan hasil belajar yang sesungguhnya.

Ketika ada ketentuan bahwa nilai minimal harus tinggi, misalnya 80, dan siswa sebisa mungkin tidak boleh tinggal kelas, sebagian guru berada pada posisi yang sulit. Di satu sisi mereka ingin menegakkan standar akademik, namun di sisi lain ada tekanan agar angka-angka dalam rapor terlihat baik.

Akibatnya, proses penilaian yang seharusnya dimulai dari ulangan harian, tugas, praktik, sikap, dan evaluasi akhir terkadang kehilangan makna. Nilai menjadi tujuan, bukan hasil dari proses belajar. Siswa yang rajin dan yang kurang berusaha bisa memperoleh hasil yang tidak jauh berbeda.

Dampaknya cukup serius. Sebagian siswa menjadi kurang termotivasi untuk belajar sungguh-sungguh karena merasa tetap akan naik kelas. Sebagian guru juga kehilangan semangat untuk melakukan pembinaan secara maksimal karena hasil akhirnya seolah sudah ditentukan sejak awal.

Padahal pendidikan bukan sekadar mengejar angka rapor. Pendidikan adalah proses membentuk ilmu, karakter, keterampilan, dan tanggung jawab. Nilai yang baik seharusnya lahir dari proses belajar yang baik, bukan sebaliknya.

Sebagaimana firman Allah:

"Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. Thaha: 114)

Ayat ini mengajarkan bahwa yang utama adalah bertambahnya ilmu, bukan sekadar angka atau pengakuan.

Oleh karena itu, yang perlu dibangun adalah budaya kejujuran dalam penilaian, semangat belajar pada siswa, dan keberanian semua pihak untuk menjadikan kualitas pembelajaran sebagai tujuan utama. Jika prosesnya baik, maka nilai yang baik akan mengikuti dengan sendirinya.

"Pendidikan akan maju ketika kejujuran lebih dihargai daripada angka, dan proses belajar lebih diutamakan daripada sekadar kelulusan."

Komentar