Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga lisan, sebab satu ucapan dapat menjadi sebab hadirnya persaudaraan, namun juga bisa menjadi api yang membakar hubungan antarmanusia. Orang yang gemar mengadu domba sering kali datang dengan wajah manis dan kata-kata yang seolah membela kita. Padahal, di balik itu ia sedang menanam benih permusuhan dan kebencian.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan janganlah engkau ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang suka mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah.”
(QS. Al-Qalam: 10–11)
Dalam ayat lain Allah juga memperingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Rasulullah ﷺ pun sangat keras memperingatkan bahaya adu domba (namimah). Beliau bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Orang yang terbiasa membawa cerita keburukan orang lain kepada kita, sejatinya juga berpotensi membawa keburukan kita kepada orang lain. Karena itu, seorang mukmin hendaknya berhati-hati dalam menerima berita, tidak mudah terprovokasi, dan menjaga lisannya dari menyebarkan fitnah.
Lebih mulia menjadi penyejuk dalam perselisihan daripada menjadi penyulut permusuhan. Sebab setiap kata yang keluar dari lisan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak.
Semoga Allah menjaga hati dan lisan kita dari fitnah, prasangka buruk, dan adu domba, serta menjadikan kita hamba yang membawa kedamaian di tengah manusia. Aamiin.

Komentar