Kembali kepada Allah Sebelum Waktu Berakhir
Manusia sering kali merasa bangga dengan apa yang dimiliki—harta, jabatan, ilmu, ataupun pujian manusia. Padahal semua itu hanyalah titipan sementara dari Allah SWT. Tidak ada satu pun yang benar-benar menjadi milik kita selamanya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Karena itu, seorang mukmin hendaknya lebih banyak melihat kekurangan dirinya daripada sibuk membanggakan kelebihan. Sebab di balik nikmat yang Allah berikan, ada amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan. Betapa banyak dosa, khilaf, dan kelalaian yang sering tidak kita sadari setiap hari.
Namun Islam adalah agama penuh kasih sayang. Allah tidak menutup pintu taubat bagi hamba-Nya yang ingin kembali. Bahkan Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi)
Hadits ini mengajarkan bahwa manusia terbaik bukanlah yang tidak pernah salah, tetapi yang mau mengakui kesalahannya lalu kembali kepada Allah dengan hati yang tulus. Taubat bukan tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa hati masih hidup dan ingin dekat dengan Rabb-nya.
Selama napas masih berhembus, jangan pernah lelah memperbaiki diri, memperbanyak istighfar, dan memohon ampun kepada Allah. Karena bisa jadi satu taubat yang sungguh-sungguh menjadi sebab Allah menghapus dosa-dosa kita dan mengangkat derajat kita di sisi-Nya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang rendah hati, mudah bertaubat, dan istiqamah memperbaiki diri hingga akhir hayat. Aamiin.

Komentar