Rakyat Kecil vs Pemodal Besar: Siapa Pemenang di Era IKN?”
Proyek besar seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan wacana Jakarta sebagai kota global sering menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa semua ini hanya akan menguntungkan pemodal besar, sementara rakyat kecil hanya menjadi penonton yang menunggu “jatah”.
Pandangan ini tidak sepenuhnya salah. Dalam setiap proyek berskala besar, memang pihak yang memiliki modal kuat biasanya berada di barisan terdepan. Mereka memiliki akses, jaringan, serta kemampuan untuk mengambil peluang lebih cepat dibandingkan masyarakat biasa. Keuntungan besar pun sering kali lebih dahulu dirasakan oleh kalangan atas.
Namun, jika dilihat lebih dalam, proyek besar tidak hanya menciptakan satu jenis manfaat. Ada lapisan-lapisan peluang yang sebenarnya bisa dimanfaatkan oleh berbagai kalangan. Di balik pembangunan infrastruktur, muncul kebutuhan akan tenaga kerja, jasa, logistik, hingga usaha kecil seperti kuliner, penginapan, dan perdagangan harian. Di sinilah peluang bagi masyarakat umum sebenarnya terbuka.
Masalahnya bukan semata-mata pada siapa yang diuntungkan, tetapi pada apakah sistem yang ada memberikan akses yang adil. Jika informasi tertutup dan peluang hanya berputar di kalangan tertentu, maka kekhawatiran masyarakat akan menjadi kenyataan. Namun jika ada keterbukaan, pelatihan, dan dukungan bagi usaha kecil, maka masyarakat tidak harus selamanya menjadi penonton.
Yang juga tidak kalah penting adalah kesiapan masyarakat itu sendiri. Di era perubahan besar seperti sekarang, sikap pasif dan hanya menunggu justru akan membuat kita tertinggal. Sebaliknya, mereka yang mampu melihat celah dan berani mengambil langkah, meskipun kecil, berpotensi ikut merasakan manfaatnya.
IKN dan konsep kota global pada dasarnya adalah alat. Apakah alat ini akan memperkuat kemandirian bangsa atau justru memperlebar kesenjangan, sangat bergantung pada bagaimana ia dikelola dan bagaimana masyarakat meresponsnya.
Pada akhirnya, pilihan ada di tangan kita: tetap menjadi penonton yang menunggu, atau mulai bergerak menjadi bagian dari perubahan

Komentar