Tamu sering disebut sebagai raja, karena menghormati tamu adalah bentuk kemuliaan akhlak dan simbol penghormatan yang tinggi dalam Islam. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa memuliakan tamu bukan hanya adab sosial, tetapi juga bagian dari keimanan. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Silaturahmi melalui bertamu membawa banyak keberkahan: melapangkan rezeki, memanjangkan umur, serta menjadi sebab terhindarnya keluarga dari penyakit dan musibah. Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat para sahabat, diceritakan bahwa bertamu dengan niat baik dan penuh adab dapat menjadi sebab perlindungan Allah dari bahaya. Bahkan ada kisah ketika seseorang pulang dari bertamu kepada sahabatnya, lalu Allah menghindarkannya dari mara bahaya—sebagai tanda bahwa silaturahmi membawa penjagaan Ilahi.
Maka, memuliakan tamu bukan sekadar tradisi, melainkan jalan menuju keberkahan, kesehatan, keselamatan keluarga, dan ridha Allah سبحانه وتعالى.

Komentar