Syahadat: Pintu Utama Islam dan Fondasi Setiap Amal
Syahadat adalah gerbang pertama seseorang memasuki Islam. Kalimat suci:
Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”
Inilah rukun Islam yang pertama sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah…”
(HR. dalam dan )
Syahadat Bukan Sekadar Ucapan
Syahadat bukan hanya lafaz di lisan, tetapi keyakinan dalam hati dan pembuktian dalam amal. Allah berfirman:
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah…”
(QS. , Muhammad: 19)
Ayat ini menunjukkan bahwa syahadat harus disertai ilmu, keyakinan, dan pengamalan. Setiap ibadah—shalat, puasa, zakat, sedekah, bahkan aktivitas sehari-hari—harus dilandasi syahadat agar bernilai ibadah dan menghadirkan Allah di dalamnya.
Artinya, kita beramal karena Allah, dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ. Tanpa dua fondasi ini, amal bisa kehilangan arah.
Islam Keturunan dan Kesadaran Syahadat
Di Indonesia, mayoritas kita adalah Muslim karena keturunan. Kita sudah bersyahadat sejak kecil, bahkan mungkin tanpa momen khusus yang kita ingat. Berbeda dengan para mualaf, yang bersyahadat dengan penuh kesadaran, disaksikan manusia, bahkan mendapatkan sertifikat keislaman.
Namun hakikatnya, yang terpenting bukan sertifikat di dunia, melainkan kesaksian hati di hadapan Allah.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
(QS. , Ali ‘Imran: 102)
Ayat ini mengingatkan bahwa iman harus terus diperbarui. Syahadat bukan hanya di awal kehidupan, tetapi harus hidup dalam setiap langkah.
Memperbarui Syahadat dalam Kehidupan
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar kita memperbarui iman:
“Perbaruilah iman kalian.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana cara memperbarui iman kami?” Beliau menjawab, “Perbanyaklah membaca la ilaha illallah.”
(HR. Ahmad)
Maka bagi kita yang Muslim keturunan, penting untuk:
- Menghadirkan niat karena Allah dalam setiap amal.
- Mengikuti sunnah Rasul dalam beribadah.
- Memahami makna syahadat, bukan sekadar mengucapkannya.
- Menjaga konsistensi hingga akhir hayat
Syahadat adalah pintu masuk Islam, sekaligus fondasi seluruh ibadah. Ia bukan hanya kalimat pembuka, tetapi kompas kehidupan.
Mari kita hidupkan kembali makna syahadat dalam hati, agar setiap aktivitas—baik di masjid, di rumah, maupun di tempat kerja—menjadi ibadah yang mengantarkan kita kepada ridha Allah.
Semoga Allah meneguhkan kita di atas kalimat la ilaha illallah hingga akhir hayat. Aamiin.

Komentar