Tawadhu’: Membalas Kejahilan dengan Kemuliaan Akhlak
Tawadhu’ adalah sikap rendah hati yang lahir dari hati yang bersih dan penuh kesadaran bahwa semua kemuliaan berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang tawadhu’ tidak merasa dirinya lebih baik dari orang lain, meskipun ia memiliki ilmu, harta, atau kedudukan.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.”
(QS. Al-Furqan: 63)
Ayat ini mengajarkan bahwa salah satu ciri hamba Allah yang sejati adalah mampu mengendalikan diri ketika menghadapi kejahilan. Tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi dengan ucapan yang baik dan penuh kesabaran.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.”
(HR. Muslim)
Akhlak tawadhu’ adalah cerminan kemuliaan iman. Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita berjumpa dengan orang yang berkata kasar atau bersikap tidak menyenangkan. Namun, justru di situlah ujian kesabaran dan keikhlasan kita. Membalas dengan kata-kata yang baik bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kekuatan hati.
Mari kita hiasi diri dengan tawadhu’, karena dengan kerendahan hati, Allah akan mengangkat derajat kita, dan dengan kelembutan ucapan, hati yang keras pun bisa menjadi luluh.

Komentar