Beribadah Tanpa Pamrih: Kisah Abdul Aziz yang Tak Gentar Surga dan Neraka”
Ikhlas Beribadah karena Allah, Bukan Karena Surga atau Takut Neraka
Kisah Abdul Aziz mengajarkan satu hal penting: beribadah bukan semata-mata karena ingin surga atau takut neraka, tetapi karena mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama hidup manusia adalah ibadah. Bukan sekadar mengejar balasan, tetapi sebagai bentuk penghambaan dan ketaatan kepada Sang Pencipta.
Rasulullah ﷺ juga bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh :
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
(HR. dan )
Hadis ini menjadi landasan bahwa nilai ibadah terletak pada keikhlasan niat. Abdul Aziz dalam kisah tersebut menunjukkan sikap yang luar biasa: ia tidak terpengaruh oleh kabar surga maupun neraka. Ia tetap beribadah karena Allah, bukan karena imbalan.
Keikhlasan adalah amalan hati yang sangat tinggi nilainya. Allah berfirman:
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Orang yang ikhlas tidak berubah semangatnya karena pujian atau celaan, tidak goyah karena kabar baik atau kabar buruk. Ia beribadah dalam keadaan lapang maupun sempit, karena tujuannya hanya satu: ridha Allah.
Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa surga dan neraka adalah hak Allah. Tugas kita hanyalah berusaha menjadi hamba yang taat dan tulus. Bila ibadah kita benar-benar karena Allah, maka insyaAllah, balasan terbaik akan Allah berikan pada waktunya.
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang beribadah dengan hati yang ikhlas, bukan sekadar mengejar balasan, tetapi karena cinta dan tunduk kepada-Nya.

Komentar