Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering tergoda untuk menilai dan meremehkan orang lain berdasarkan harta, jabatan, rupa, atau latar belakang. Padahal, kemuliaan sejati bukanlah apa yang tampak di mata manusia, melainkan apa yang bernilai di sisi Allah SWT.
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kamu.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini menegaskan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah status duniawi, melainkan ketakwaan—sesuatu yang hanya Allah yang mengetahui hakikatnya. Bisa jadi seseorang yang tampak biasa di mata kita justru memiliki kedudukan tinggi di sisi-Nya karena keikhlasan, kesabaran, dan amal salehnya.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:
“Cukuplah seseorang dianggap buruk jika ia meremehkan saudaranya sesama Muslim.”
(HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa meremehkan orang lain bukan hanya akhlak tercela, tetapi juga tanda kesombongan yang berbahaya bagi hati. Kesombonganlah yang dahulu menjatuhkan Iblis dari kemuliaannya.
Sebaliknya, Islam mengajarkan tawadhu’ (rendah hati), menghormati sesama, dan selalu berprasangka baik. Kita tidak pernah tahu siapa yang lebih dicintai Allah—mungkin orang yang kita anggap kecil justru lebih dekat kepada-Nya karena doa, air mata taubat, dan amal tersembunyinya.
Maka, marilah kita menjaga hati dari sikap merendahkan orang lain. Lebih baik sibuk memperbaiki diri sendiri daripada menghakimi sesama, karena boleh jadi di sisi Allah, mereka lebih mulia, lebih utama, dan lebih dekat kepada-Nya daripada kita.

Komentar