Ilmu di Kepala, Belum di Hati sehingga dapat praktek sehari hari
Kita tahu ini haram, tapi kenapa kita terkadang masih melakukannya? Itu tandanya ilmu kita baru sampai di kepala, belum sampai masuk ke dalam hati.
Dalam Islam, mengetahui hukum saja belum cukup jika tidak diiringi dengan iman yang hidup dan hati yang tunduk kepada Allah. Banyak orang paham mana yang halal dan mana yang haram, namun tetap terjerumus dalam maksiat karena ilmunya belum meresap ke dalam hati dan belum melahirkan rasa takut (khauf) serta cinta (mahabbah) kepada Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
> “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.”
(QS. Fathir: 28)
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu sejati adalah ilmu yang melahirkan rasa takut kepada Allah dan mendorong seseorang untuk taat, bukan sekadar hafalan tanpa pengamalan.
Rasulullah ๏ทบ juga bersabda:
> “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad; dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itu adalah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka tugas kita bukan hanya menambah ilmu, tetapi juga membersihkan hati melalui taubat, dzikir, muhasabah, dan amal saleh, agar ilmu yang kita miliki benar-benar hidup, menggerakkan, dan menjaga kita dari yang haram.
Karena ilmu yang sampai ke hati akan melahirkan ketaatan, bukan sekadar pengetahuan.

Komentar