Sejak Ujian Nasional dihapuskan, pendidikan Indonesia perlahan kehilangan marwahnya. Sekolah tidak lagi menjadi arena perjuangan intelektual, melainkan ruang formalitas yang miskin tantangan. Anak-anak tidak terdorong belajar sungguh-sungguh karena tidak ada lagi standar nasional yang memaksa mereka mengukur kemampuan diri secara jujur dan kompetitif.
Ketika tidak ada lagi pertarungan gagasan dan usaha, motivasi pun mati. Peserta didik belajar sekadarnya, asal naik kelas. Lebih tragis lagi, guru dipaksa menerima kenyataan bahwa suara mereka tak lagi berpengaruh. Pelajaran di kelas menjadi rutinitas kosong, tanpa daya getar, karena murid-murid tahu: gagal pun bukan masalah besar.
Pendidikan semakin kehilangan harga diri ketika nilai harus selalu baik. Bukan karena prestasi, melainkan karena sistem menuntutnya demikian. Nilai dipoles, diperindah, bahkan dibengkakkan demi citra. Remidi bukan lagi sarana perbaikan, melainkan jalan pintas. Anak-anak paham betul bahwa belajar keras bukan keharusan, sebab nilai tetap bisa “diatur”.
Lebih menyedihkan lagi, guru yang seharusnya menjadi penjaga moral dan disiplin justru dibelenggu ketakutan. Teguran dianggap kekerasan, nasihat keras dipelintir menjadi pelanggaran, dan pendisiplinan dicurigai sebagai kejahatan. Kriminalisasi guru bukan lagi isu, melainkan realitas. Guru akhirnya memilih aman: diam, mengalah, dan membiarkan.
Akibatnya fatal. Anak rajin, anak biasa, bahkan anak yang nyaris tidak pernah belajar, semuanya bisa memperoleh nilai yang sama-sama “memuaskan”. Ketika hasil tidak mencerminkan usaha, pendidikan berubah menjadi sandiwara. Tidak ada lagi keadilan akademik. Tidak ada lagi kebanggaan atas prestasi.
Jika semua anak dinyatakan berhasil tanpa proses yang jujur, maka sesungguhnya kita sedang memproduksi generasi yang rapuh generasi yang alergi terhadap tantangan, takut gagal, dan miskin daya juang.
Inilah potret suram pendidikan kita hari ini: nilai kehilangan makna, guru kehilangan wibawa, dan sekolah kehilangan fungsi. Jika kondisi ini terus dibiarkan, jangan salahkan siapa pun ketika kelak kita menuai generasi yang tak siap menghadapi kerasnya kehidupan. Pendidikan telah kehilangan harga dirinya dan kita semua ikut bertanggung jawab.

Komentar